Selasa, 19 Juli 2011

SON HAJI


Son Haji adalah nama panggilan dari salah satu dosen yang ada di STIE MCE beliou adalah salah seorang pigur dosen yang banyak sekali meng inspirasi orang baik dari kalangan mahasiswa, orang-orang yang dekat dengan beliu bahkan Dosen sekalipun.
Beliou banyak sekali mengelurakan ide-ide baru yang bisa memotivasi bagi siapapun banyak artikel-artikel yang beliou tulis di antaranya yang saya posting di blog saya yaitu Motivasi By Sonhaji dan di bawah ini adalah salah satu artikel yang bilou tulis :


Say What You Want
Posted on June 29th, 2011 by sonhaji
There can be miracle when you believe..”, syair nada dering telpon genggam saya yang dinyanyikan oleh Mariah Carey melalui suara emasnya telah mengagetkan istirahat saya. Sengaja memang, saya menggunakan lagunya Carey persis di kalimat tersebut saat saya menerima telepon. Syair ini sangat menginspirasi. Tidak saya sangka, saya ditelepon oleh teman yang sudah lama tidak berkomunisasi. Setelah menjawab salam, saya bertanya :”Tumben telepon, ada angin apa ini?”. Tanpa ada pendahuluan, langsung saja dia mengatakan:”Saya memiliki masalah”; ”Saya sumpek”, ”Saya sedang ruwet”. Tanpa memberi kesempatan saya beromentar, dia melanjutkan dengan pilihan kata yang berkonotasi masalah serta kalimat lainnya yang bernada negatif dan menunjukkan kesusahan. ”Tolong saya”, kata dia mengakhiri keluhannya.

Sambil tertawa terbahak-bahak, saya katakan:”Kamu lucu”. Dengan nada agak kesal dia protes:”Loh, dimintai tolong orang sedang susah, malah dibilang lucu, gimana sih sampeyan iki”. Saya jawab pendek:”Ya, lucu aja”. ”Maksudnya?”, balik dia bertanya. Dengan tetap saya awali dengan tertawa saya katakan:”Pertama, lama tidak telepon, Kamu menyodori saya dengan kata-kata masalah, susah, sumpek dan kata negatif lainnya, tanpa menjelaskan apa sebabnya. Kedua, Kamu kira saya ’solutionman’ yang bisa mengatasi masalah Kamu. Atau seperti semboyan Pegadaian ’mengatasi masalah tanpa masalah’. Nah, apa ini tidak lucu. Lucukan? Halo…yang bisa menyelesaikan masalahmu adalah Kamu sendiri, orang lain hanya pendorong”. Dengan masih kesal, dia berkata:”Ya, sudah lucu”. ”Kalau lucu, senyum dong”, pinta saya. ”Nah, begitu kan enak”, saya katakan, walau saya tidak tahu dia tersenyum atau tidak. Namun setidaknya, cara saya tersebut telah menurunkan tensi perasaanya terhadap masalah yang sedang diahadapinya.

Berikutnya, saya minta ke dia untuk mengubah cara dia berkata dan menyimpulan apa yang sedang dihadapi. Saya katakan, bahwa saya tidak senang jika dia menggunakan kata-kata masalah, kesusahan dan sumpek seperti yang disampaikan ke saya. Lalu dia bertanya harus mengatakan seperti apa. Saya tuntun dia untuk mengatakan:”Ini hal biasa kok, aku bisa menyelesaikan”. Aku suruh dia mengulang-ulang kata itu sampai perasaan negatifnya redah dan berganti lebih santai atau rileks. Dengan tetap tidak menafikan masalah yang sedang dihadapi, saya ajak dia mengaburkan yang dihadapi dengan menyebut sebagai suatu hal, yaitu ”hal biasa yang bisa diselesaikan”. Dari nada bicara di telepon saya bisa merasakan, dia sudah bisa mengendalikan perasaanya.

Dari pembicaraan berikutnya, saya baru mengerti kalau dia memiliki masalah dengan ibunya, sudah satu bulan tidak menyapa orang yang telah melahirkannya. Aku katakan:”Wah kamu bisa menjadi anak durhaka loh”. Lalu akau sarankan untuk meminta maaf padanya. Tapi dia tidak mau karena ada ego di dirinya yang menyatakan tidak mungkin karena ibunya tidak akan merespons dengan baik niat baiknya untuk minta maaf. Ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya. Saya katakan:”Nah ini, karena kamu sudah memutuskan dan memikirkan akan terjadi seperti itu, kemungkinan besar akan terjadi betul, karena kamu memikirkan dan mengatakan yang tidak kamu inginkan”. Saya suruh dia menghilangkan dan mengantongi egonya sebentar. Saya minta dia untuk membayangkan apa yang dia lakukan saat minta maaf dan apa yang akan dilakukan oleh ibunya. Saat itu saya juga sarankan untuk mencari saat yang tepat, yaitu saat setelah sholat dan masih menggunakan mukenah.

Setelah beberapa hari dia menvisualisasikan, dia lakukan apa yang sudah diharapkan dan ingin dilakukan. Saat dia cerita sama saya, ada yang menarik dari pengalamannya, yaitu dia betul-betul lakukan minta maaf saat masih menggunakan mukenah. Alih-alih dia mengatakan:”Bu, saya ingin tidak punya masalah lagi”, dia mengatakan:”Bu saya ingin kedamaian”. Lalu dia minta maaf pada ibunya. Apa yang terjadi? Hampir persis terjadi apa yang dia visualisasikan, keduanya menangis dan saling memaafkan. Ibunya memeluk dia dan mengatakan seperti yang dia harapkan. Woh…. saya hampir tidak percaya terhadap cerita dia, saat dia menceritakan hasil upayanya. Alhamdulillah, saya bisa membantu orang menyelesaikan masalahnya dengan metode dari buku yang saya baca. Ini yang dalam buku-buku personalitas dinamakan ”perasaan positif”. Ternyata berpikir positif saja tidak cukup, harus dibarengi dengan memiliki perasaan positif serta mengunakan kata positif. Lengkapnya, ”Pikirkan dan katakan yang Anda inginkan bukan yang tidak Anda inginkan”, demikian nasihat bijak yang sering saya dengar. Orang bule sering mengatakan:”Say what you want”.

Telepon dari teman saya dan pengalaman dia menyelesakan masalahnya memberikan pelajaran tersediri bagi Saya. Orang bisa membingkai kembali hal yang dihadapi dengan menganggap sebagai hal lain. Teman saya sudah bisa mengubah masalah, kesumpekan dan kesusahan yang diadapi sebagai hal biasa yang bisa dia selesaikan. Bukan itu saja, reaksi fisik juga bisa mengubah perasan. Senyum dan tertawa ternyata bisa membuat teman saya lebih santai dan rileks. Hal lain lagi yang menarik, mengubah kata-kata yang digunakan ternyata juga bisa mengubah perasaan yang melingkupinya. Daripada mengatakan, ”saya ingin tidak punya masalah lagi”, dia memilih ”saya ingin kedamaian”. Nah ini yang sering dilupakan orang, suasana. Teman saya telah memilih suasana yang sangat tepat untuk mengatakan hal yang sensitif, yaitu setelah sholat dan masih meggunakan mukenah. Bukankah ini cara yang cerdas?

Tidak ada komentar: