Sabtu, 23 Juli 2011

Saatnya Bertaubat


Al Fudihail bin 'lyadh sebelum menjaai seorang ulama besar adalah seorang penyamun. Ia biasa menghadang orang-orang yang lewat di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Ia juga dikenal sebagal orang yang mudah tergila-gila pada perempuan. Hingga suatu ketika ia pernah terpikat dengan seorang wanita. Ia tidak dapat mengendalikan diri setiap melihat wanita ini. Untuk melampiaskan hasyratnya pada suatu malam ia memanjat tembok rumah wanita tersebut.Tiba-tiba, beliau mendengar seseorang membaca ayat: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orangorang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq.”(Al Hadid: 16)
Seketika dadanya berdebar-debar dan tubuhnya gemetar. Spontan bibirnya menjawab, “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Maka Al Fudhail pun mengurungkan niatnya. Ia merenungkan terus ayat yang baru saja didengarnya. Saat itu ía tengah duduk di sebuah bangunan kosong tempat ía biasa mencegat kafilah-kafilah dagang. Pada saat yang bersamaan ada sekelompok orang yang sedang lewat.Terdengar oleh Al Fudhail sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus:’ Sebagian yang lain menyahut, “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.”Mendengar hal itu iapun berkata: “Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin takut kepadaku.Tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram”
Sejak peristiwa itu Al Fudhail menghabiskan waktunya di Kufah untuk belajar kepada para ulama di negeri tersebut.Tercatat ada beberapa ulama, seperti Manshur, Al-Amasy, ‘Atha’ bin As-Saaib serta Shafwan bin Salim dan juga dan ulama-ulama lainnya. Kemudian ia menetap di Makkah. Di Makkah ia bekerja dengan mengangkut air untuk keperluan orang-orang. Ia juga bertugas mengatur pengairan di Makkah. All'ahu alam.

Sumber : Lembar Tausiyah (www.bmhjatim.com)

Jumat, 22 Juli 2011

Fadhilah Burdah

Kalam Habib Salim bin Abdullah Asy-Syatiri


Burdah artinya mantel dan juga dikenal sebagai Bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan). Imam Busyiri adalah seorang penyair yang suka memuji raja-raja untuk mendapatkan uang. Kemudian beliau tertimpa sakit faalij (setengah lumpuh) yang tak kunjung sembuh setelah berobat ke dokter manapun.

Tak lama kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah S.A.W. yang memerintahkannya untuk menyusun syair yang memuji Rasulullah. Maka beliau mengarang Burdah dalam 10 pasal pada tahun 6-7 H. Seusai menyusun Burdah, beliau kembali mimpi bertemu Rasulullah yang menyelimutinya dengan Burdah (mantel). Ketika bangun, sembuhlah beliau dari sakit lumpuh yang dideritanya.

Qoshidah Burdah ini tersebar ke seluruh penjuru bumi dari timur ke barat. Bahkan disyarahkan oleh sekitar 20 ulama, diantaranya yang terkenal adalah Imam Syaburkhiti dan Imam Baijuri.

Habib Husein bin Mohammad Alhabsyi (saudara Habib Ali Alhabsyi sohibul maulid Simtud Duror) biasa memimpin Dalail Khoiroot di Mekkah. Kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah yang memerintahkannya untuk membaca Burdah di majlis tersebut. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata bahwa membaca Burdah sekali lebih afdol daripada membaca Dalail Khoiroot 70 kali.

Ketika Hadramaut tertimpa paceklik hingga banyak binatang buas berkeliaran di jalan, Habib Abdulrahman Al Masyhur memerintahkan setiap rumah untuk membaca Burdah. Alhamdulillah, rumah-rumah mereka aman dari gangguan binatang buas.

Beberapa Syu’araa (penyair) di zaman itu sempat mengkritik bahwa tidaklah pantas pujian kepada Rasulullah dalam bait-bait Burdah tersebut diakhiri dengan kasroh/khofadz. Padalah Rasulullah agung dan tinggi (rofa’). Kemudian Imam Busyiri menyusun qoshidah yang bernama Humaziyyah yang bait-baitnya berakhir dengan dhommah (marfu’).

Imam Busyiri juga menyusun Qoshidah Mudhooriyah. Pada qoshidah tersebut terdapat bait yang artinya, ‘Aku bersholawat kepada Rasulullah sebanyak jumlah hewan dan tumbuhan yang diciptakan Allah.’ Kemudian dalam mimpinya, beliau melihat Rasulullah berkata bahwa sesungguhnya malaikat tak mampu menulis pahala sholawat yang dibaca tersebut.

Habib Salim juga bercerita tentang seseorang yang telah berjanji kepada dirinya untuk menyusun syair hanya untuk memuji Allah dan Rasulullah. Suatu ketika ia tidak mempunyai uang dan terpaksa menyusun syair untuk memuji raja-raja agar mendapat uang. Ia pun mimpi Rasulullah berkata, “Bukankah engkau telah berjanji hanya memuji Allah dan Rasul-Nya?! Aku akan memotong tanganmu…”

Kemudian datanglah Sayidina Abubakar r.a. meminta syafaat untuknya dan dikabulkan oleh Rasulullah. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia pun langsung bertobat. Kemudian ia melihat di tangannya terdapat tanda bekas potongan dan keluar cahaya dari situ.

Habib Salim mengatakan bahwa Burdah ini sangat mujarab untuk mengabulkan hajat-hajat kita dengan izin Allah. Namun terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Yaitu mempunyai sanad ke Imam Busyiri, mengulangi bait ‘maula ya solli wa sallim…’, berwudhu, menghadap kiblat, memahami makna bait-bait, dibaca dengan himmah yang besar, beradab, memakai wewangian.

Khusus tentang memakai wewangian ini, Habib Salim mengatakan, ‘Tidak seperti orang sekarang, membaca Burdah namun badannya bau rokok. Padahal salaf telah sepakat untuk mengharamkan rokok.’

Di akhir ceramah beliau, Habib Salim menyampaikan bahwa jika seseorang tidak berjalan di thoriqoh aslaf maka dikhawatirkan tiga hal. Pertama, umurnya pendek. Kedua, Hidup dalam keadaan bingung/akalnya gila. Ketiga, tak akan dihargai masyarakat.

(Disampaikan di Majlis Burdah Hb Syekh Alaydrus Jl. Ketapang Kecil Surabaya)
Sumber : http://qomarfauzie.wordpress.com/2007/05/03/fadhilah-burdah/

Fadilah dan Keutamaan Rotib Al Hadad


Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya:
Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiwun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan Haji, bahtera kami terkandas tidak dapat meneruskan perjalanannya kerana tidak ada angin yang menolaknya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan Haji. Di suatu perhentian, kami cuba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan masin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat.
Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca Ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi bila mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perompak-perompak yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ. Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terkandas di situ, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum Syarif* tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Haji, syukurlah atas bantuan Alloh SWT karena berkat membaca Ratib ini.

Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Alloh mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak menampakku, sedang aku memandang mereka.”
Begitu juga pernah berlaku semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka dibajak oleh gerombolan perompak, maka dia menyuruh orang-orang yang bersama-samanya membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak mengapa-apakan siapapun, malah mereka berlalu dengan tidak mengganggu.

Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tentaranya untuk memerangi negeri Aughan.
Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tenteranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib i ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita ada benteng yang kuat, iaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan terselamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.

Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, yaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin macet tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun terkandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tidak berhasil juga. Maka saya mengajak rekan-rekan membaca Ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke tujuannya dengan selamat dengan berkah membaca Ratib ini.

Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah tersesat jalan sehingga membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Alloh akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Alloh SWT datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat tujuan kami.
Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.

Di antaranya lagi apa yang diceritakan oleh Syeikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, iaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata: “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun Ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannya kepada orang itu.
Pada hari besoknya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.”
Dari kebiasaan Syeikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari mahupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun Ratib ini sendiri.
Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan Ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.

Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun karena engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.

Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku membaca Ratib sebelum aku menghabiskan bacaannya, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal yang mengherankan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tidak bermimpi apa-apa pun.”

Di antara yang diberitakan lagi, bahawa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya', kami tidak membaca Ratib dan tidak bersembahyang Isya', semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tidak sedarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah kami terbakar.

Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tidak membaca Ratib ini. Sebab itu kemudian kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tidak bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tidak membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”

Saya rasa cukup dengan beberapa cerita yang saya sampaikan di sini mengenai kelebihan Ratib ini dan anda sendiri dapat meneliti , sehingga Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait sendiri pernah mengatakan dalam bukunya Ghayatul Qasd Wal Murad, bahawa roh Saiyidina penyusun Ratib ini akan hadir apabila dibaca Ratib ini, dan di sana ada lagi rahasia-rahasia kebatinan yang lain yang dapat dicapai ketika membacanya dan ini adalah mujarab dan benar-benar mujarab, tidak perlu diragukan lagi.
Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong-omong kosong.”
Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib Abdullah Haddad: “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca Ratib kami ini dengan secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 )
Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Pemurah, Kami balakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.”
( Az-Zukhruf: 36 )
Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingai Tuhannya, Kami akan menurukannya kepada siksa yang menyesakkan nafas.” ( Al-Jin: 17)
Apa lagi yang hendak diterangkan mengenai Ratib ini untuk mendorong anda supaya melazimkan diri mengamalkan bacaannya setiap hari, sekurang-kurangnya sehari setiap malam, mudah-mudahan anda akan terbuka hati untuk melakukannya dan mendapat faedah daripada amalan ini.
Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin
Dipetik dari: Syarah Ratib Haddad: Analisa Dan Komentar - karangan Syed Ahmad Semait, terbitan Pustaka Nasional Pte. Ltd.

Rabu, 20 Juli 2011

Untaian Kata Bijak Islami


Benci kepada taqdir Ilahi itu adalah satu dosa besar, dimurkai Allah, apalagi jika diceritakan kepada orang lain. Itu berarti mengadukan halnya dengan Tuhan kepada mahkluknya…

Harta adalah apa yg dimakan sampai kenyang, yg dipakai sampai lapuk dan yg di sumbangkan kepada orang lain. Mahluk yg paling mulia di dunia ini adalah manusia, dan bagian tubuh manusia yg paling mulia adalah hati…

Sayangilah semua yang di bumi. Pasti yang di langitpun akan menyayangimu. Selamatkan hatimu dengan bermurah hati dan menyayangi sesama maka surga akan menantimu…


Janganlah Anda sahabati kecuali orang yang dapat menyimprahasia dan menutup aibmu, mendampingi Anda dalam kesusahan, mendahulukan kepentinganmu, menyiarkan kebaikanmu dan tidak menyiarkan kejahatanmu. Kalau tiada engkau jumpai orang yang begitu, bertemanlah dengan dirimu sendiri…

Hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan cahaya. jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya…

Yang paling dekat itu kematian, yang paling jauh masa lalu, yang paling besar hawa nafsu, yang paling berat memegang amanah, yang paling ringan meninggalkan sholat dan yang paling tajam lidah manusia…
**Imam Al Ghazali
http://www.yulissamoa.com/kata-kata-bijak-nuansa-islami

Selasa, 19 Juli 2011

SON HAJI


Son Haji adalah nama panggilan dari salah satu dosen yang ada di STIE MCE beliou adalah salah seorang pigur dosen yang banyak sekali meng inspirasi orang baik dari kalangan mahasiswa, orang-orang yang dekat dengan beliu bahkan Dosen sekalipun.
Beliou banyak sekali mengelurakan ide-ide baru yang bisa memotivasi bagi siapapun banyak artikel-artikel yang beliou tulis di antaranya yang saya posting di blog saya yaitu Motivasi By Sonhaji dan di bawah ini adalah salah satu artikel yang bilou tulis :


Say What You Want
Posted on June 29th, 2011 by sonhaji
There can be miracle when you believe..”, syair nada dering telpon genggam saya yang dinyanyikan oleh Mariah Carey melalui suara emasnya telah mengagetkan istirahat saya. Sengaja memang, saya menggunakan lagunya Carey persis di kalimat tersebut saat saya menerima telepon. Syair ini sangat menginspirasi. Tidak saya sangka, saya ditelepon oleh teman yang sudah lama tidak berkomunisasi. Setelah menjawab salam, saya bertanya :”Tumben telepon, ada angin apa ini?”. Tanpa ada pendahuluan, langsung saja dia mengatakan:”Saya memiliki masalah”; ”Saya sumpek”, ”Saya sedang ruwet”. Tanpa memberi kesempatan saya beromentar, dia melanjutkan dengan pilihan kata yang berkonotasi masalah serta kalimat lainnya yang bernada negatif dan menunjukkan kesusahan. ”Tolong saya”, kata dia mengakhiri keluhannya.

Sambil tertawa terbahak-bahak, saya katakan:”Kamu lucu”. Dengan nada agak kesal dia protes:”Loh, dimintai tolong orang sedang susah, malah dibilang lucu, gimana sih sampeyan iki”. Saya jawab pendek:”Ya, lucu aja”. ”Maksudnya?”, balik dia bertanya. Dengan tetap saya awali dengan tertawa saya katakan:”Pertama, lama tidak telepon, Kamu menyodori saya dengan kata-kata masalah, susah, sumpek dan kata negatif lainnya, tanpa menjelaskan apa sebabnya. Kedua, Kamu kira saya ’solutionman’ yang bisa mengatasi masalah Kamu. Atau seperti semboyan Pegadaian ’mengatasi masalah tanpa masalah’. Nah, apa ini tidak lucu. Lucukan? Halo…yang bisa menyelesaikan masalahmu adalah Kamu sendiri, orang lain hanya pendorong”. Dengan masih kesal, dia berkata:”Ya, sudah lucu”. ”Kalau lucu, senyum dong”, pinta saya. ”Nah, begitu kan enak”, saya katakan, walau saya tidak tahu dia tersenyum atau tidak. Namun setidaknya, cara saya tersebut telah menurunkan tensi perasaanya terhadap masalah yang sedang diahadapinya.

Berikutnya, saya minta ke dia untuk mengubah cara dia berkata dan menyimpulan apa yang sedang dihadapi. Saya katakan, bahwa saya tidak senang jika dia menggunakan kata-kata masalah, kesusahan dan sumpek seperti yang disampaikan ke saya. Lalu dia bertanya harus mengatakan seperti apa. Saya tuntun dia untuk mengatakan:”Ini hal biasa kok, aku bisa menyelesaikan”. Aku suruh dia mengulang-ulang kata itu sampai perasaan negatifnya redah dan berganti lebih santai atau rileks. Dengan tetap tidak menafikan masalah yang sedang dihadapi, saya ajak dia mengaburkan yang dihadapi dengan menyebut sebagai suatu hal, yaitu ”hal biasa yang bisa diselesaikan”. Dari nada bicara di telepon saya bisa merasakan, dia sudah bisa mengendalikan perasaanya.

Dari pembicaraan berikutnya, saya baru mengerti kalau dia memiliki masalah dengan ibunya, sudah satu bulan tidak menyapa orang yang telah melahirkannya. Aku katakan:”Wah kamu bisa menjadi anak durhaka loh”. Lalu akau sarankan untuk meminta maaf padanya. Tapi dia tidak mau karena ada ego di dirinya yang menyatakan tidak mungkin karena ibunya tidak akan merespons dengan baik niat baiknya untuk minta maaf. Ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya. Saya katakan:”Nah ini, karena kamu sudah memutuskan dan memikirkan akan terjadi seperti itu, kemungkinan besar akan terjadi betul, karena kamu memikirkan dan mengatakan yang tidak kamu inginkan”. Saya suruh dia menghilangkan dan mengantongi egonya sebentar. Saya minta dia untuk membayangkan apa yang dia lakukan saat minta maaf dan apa yang akan dilakukan oleh ibunya. Saat itu saya juga sarankan untuk mencari saat yang tepat, yaitu saat setelah sholat dan masih menggunakan mukenah.

Setelah beberapa hari dia menvisualisasikan, dia lakukan apa yang sudah diharapkan dan ingin dilakukan. Saat dia cerita sama saya, ada yang menarik dari pengalamannya, yaitu dia betul-betul lakukan minta maaf saat masih menggunakan mukenah. Alih-alih dia mengatakan:”Bu, saya ingin tidak punya masalah lagi”, dia mengatakan:”Bu saya ingin kedamaian”. Lalu dia minta maaf pada ibunya. Apa yang terjadi? Hampir persis terjadi apa yang dia visualisasikan, keduanya menangis dan saling memaafkan. Ibunya memeluk dia dan mengatakan seperti yang dia harapkan. Woh…. saya hampir tidak percaya terhadap cerita dia, saat dia menceritakan hasil upayanya. Alhamdulillah, saya bisa membantu orang menyelesaikan masalahnya dengan metode dari buku yang saya baca. Ini yang dalam buku-buku personalitas dinamakan ”perasaan positif”. Ternyata berpikir positif saja tidak cukup, harus dibarengi dengan memiliki perasaan positif serta mengunakan kata positif. Lengkapnya, ”Pikirkan dan katakan yang Anda inginkan bukan yang tidak Anda inginkan”, demikian nasihat bijak yang sering saya dengar. Orang bule sering mengatakan:”Say what you want”.

Telepon dari teman saya dan pengalaman dia menyelesakan masalahnya memberikan pelajaran tersediri bagi Saya. Orang bisa membingkai kembali hal yang dihadapi dengan menganggap sebagai hal lain. Teman saya sudah bisa mengubah masalah, kesumpekan dan kesusahan yang diadapi sebagai hal biasa yang bisa dia selesaikan. Bukan itu saja, reaksi fisik juga bisa mengubah perasan. Senyum dan tertawa ternyata bisa membuat teman saya lebih santai dan rileks. Hal lain lagi yang menarik, mengubah kata-kata yang digunakan ternyata juga bisa mengubah perasaan yang melingkupinya. Daripada mengatakan, ”saya ingin tidak punya masalah lagi”, dia memilih ”saya ingin kedamaian”. Nah ini yang sering dilupakan orang, suasana. Teman saya telah memilih suasana yang sangat tepat untuk mengatakan hal yang sensitif, yaitu setelah sholat dan masih meggunakan mukenah. Bukankah ini cara yang cerdas?

Senin, 18 Juli 2011

KATA-KATA BIJAK


"Perlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan anda. Itulah intisari bisnis". Charles Dickens, 1812-1870
"Sedetik saja berpikir tentang kegagalan, maka anda akan benar-benar gagal". George Shultz, 1920 (mantan Menlu AS)
"Anak-anak adalah sumber daya paling berharga daripada apapun juga". Herbert Hoover, 1874-1964 (mantan Presiden AS)
"Jalani hidup dengan meyakini satu hal, bukannya berdebat tentang banyak hal". Thomas Carlyle 1795-1881 (penulis Skotlandia)
"Hidup itu singkat; kesempatan tidak datang setiap saat; pengalaman adalah guru terbaik, dan bersikap adil itu sangat sulit". Hippocrates 460-370SM
"Jika seseorang sedang jatuh cinta, apapun yang disentuhnya akan menjadi puisi". Plato 427-347SM (filsuf Yunani)
"Pejamkan mata kalau ingin benar-benar melihat". Paul Gauguin, 1848-1903 (pelukis Prancis)
"Jika Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, Ia memberikan apa yang kita perlukan". Anonim
"Kesimpulan merupakan sesuatu yang didapat setelah otak lelah berpikir". Martin H. Fischer, 1879-1962 (fisikawan AS)
"Orang bijak belajar dari kesalahan orang lain, sedangkan orang bodoh belajar dari kesalahannya sendiri".H.G Bohn, 1796-1884